REFORMASI GAGAL, SAATNYA REVOLUSI ISLAM, MENUJU TEGAKNYA SYARI'AH
DAN KHILAFAH
Diposting Oleh Pengurus: GEMA Pembebasan Pusat
Rubrik: Pernyataan Sikap - Dibaca: 326 kali
Diposting Oleh Pengurus: GEMA Pembebasan Pusat
Rubrik: Pernyataan Sikap - Dibaca: 326 kali
Indonesia, negeri gemah ripah loh jinawi,
dengan timbunan kekayaan alam melimpah ruah, yang melintang dari ujung barat
Sumatera hingga ujung timur Papua, tersebar di darat dan di laut, di permukaan
pun di dasarnya. Namun, potensi yang sedemikian luar biasa ini tidak kembali
kepada rakyat, dalam bentuk kesejahteraan. Berdasarkan Indonesia Energy
Statistic 2009, yang dikeluarkan Kementerian ESDM, total cadangan minyak
Indonesia mencapai 7,998 MMSTB (million standard tanker barrel). Jumlah ini
menempatkan Indonesia sebagai negara penghasil minyak terbesar ke-29 di dunia.
Ironisnya, kekayaan alam tersebut justru lebih banyak dinikmati oleh negara
asing, sedangkan penduduk Indonesia tetap dalam kesengsaraannya. Pada tahun
2012 sendiri, kenaikan pencabutan subsidi BBM yang masih diwacanakan hingga
saat ini, jelas sekali adalah kebijakan yang tidak berpihak kepada rakyat.
Kasus Century yang merugikan negara 6,7
Trilyun, skandal makelar kasus pajak Gayus Tambunan, KKN makin merajalela, rasa
aman ditengah-tengah masyarakat pupus, Rencana Kenaikan TDL, Kasus penganiayaan
TKW Indonesia, kasus gizi buruk balita, Krisis Pangan, Liberalisasi Pendidikan,
Kemacetan Ibukota, Privatisasi BUMN, korban lumpur Lapindo, dll merupakan
bentuk dari kegagalan pemerintah Orde Reformasi. Jika hal ini terus dibiarkan
maka Indonesia akan semakin terpuruk, menjadi negara gagal (Failed State). Maka
kiranya wajar, jika saat ini Indonesia menempati urutan ke 64 untuk Negara
Gagal dari 177 negara yang ada di dunia.
Begitulah Ideologi
Kapitalis yang sudah bercokol di sistem Indonesia melahirkan kegagalan dan
kegagalan. Karena Ideologi kapitalis merupakan Ideologi yang merusak, yang
menyebabkan krisis dan kesenjangan sosial. Biaya Pemilu yang besar, biaya
kampaye calon Presiden atau calon legislatif yang besar, di mana semua biaya
ini mayoritas dibackup oleh entitas bisnis. Dampaknya, ketika penguasa membuat
Undang-Undang tentu akan memihak pada entitas bisnis yang telah mendanainya.
Sehingga rakyat terus menderita dan dibohongi dengan adanya program-program
yang dijalankan demi mengembalikan “modal” saat kampaye.
Dari 14tahun Reformasi
berjalan, tidak mampu membawa perbaikan-perbaikan di negeri ini. Tingkat
pertumbuhan pembangunan juga sangat lambat, disisi lain kekayaan alam Indonesia
semakin dikuasai asing, ditambah lagi Utang negara semakin besar, dan semakin
mengarah kepada kebangkrutan negara. Kita bagaikan orang asing di rumah
sendiri, sedangkan orang asing bebas berkeliaran memasuki rumah dan merampok
kekayaan yang berada di rumah kita.
Bersama
keinginan luhur mengantarkan negeri ini meraih kebangkitan hakiki, maka Gerakan
Mahasiswa Pembebasan menyerukan:
1. Kapitalisme,
sekulerisme, dan neoliberalisme bukan jalan menuju kebangkitan.
2. Asing penjajah telah
melakukan makar untuk merampok negeri ini, maka perlawanan atas setiap usaha
asing penjajah adalah keharusan bagi siapapun yang mengaku cinta Indonesia.
3. Para pemuda dan
mahasiswa sebagai kaum intelektual agar bersikap progresif dan menjadi motor
pergerakan kebangkitan umat.
4. Perubahan reformatif
telah berkali-kali ditempuh, namun ibarat keluar dari mulut harimau masuk ke
mulut buaya, kebangkitan pun tinggal mimpi. Maka perubahan menuju Indonesia
bangkit, tidak lain harus ditempuh dengan mengganti Ideologi kapitalis
sekulerisme yang sedang dianut di Negeri ini harus diganti menjadi Ideologi
Islam. Ideologi yang menyatukan negeri-negeri Islam tanpa sekat kebangsaan
lagi, sekaligus memungkinkan penerapan syariah seluruhnya dalam bingkai
khilafah Islamiyah.
5. Menyerukan kepada
seluruh eleman bangsa, dan mahasiswa pada khususnya untuk merapatkan barisan,
membuang ideologi kapitalisme, karena sesungguhnya kapitalisme-sekulerisme
adalah musuh bersama, serta saling bekerjasama dalam memperjuangan Syariah dan
Khilafah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar