Judul Buku: Rekayasa Sosial -
Reformasi, Revolusi, atau Manusia Besar?
Penulis: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Rosda
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berpikir? Buku ini menjelaskan bahwa perubahan sosial (rekayasa sosial) harus dimulai dengan perubahan cara berpikir. Mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita. Pengacauan intelektual yang masif dan intensif pada masa Orde Baru (bahkan sampai kini), merupakan hambatan terbesar dalam upaya melakukan rekayasa sosial. Buku ini bermaksud memberikan wacana besar bagi perubahan untuk Indonesia Baru. Seorang politikus atau pejuang apapun yang memiliki komitmen mestilah memahami masalah mendasar ini.
Dalam buku ini, penulis juga menguraikan bagaimana sebuah revolusi (dapat) dilakukan. Dengan cermat dan tajam, penulis memberikan korelasi antara reformasi dan revolusi. Sebuah wacana yang sangat menarik untuk kita angkat pada era Indonesia Baru sekarang. Reformasi seolah menjadi kata keramat. Siapa yang tidak reformis: Minggir! Partai yang tidak reformis: Bubar! Reformasi telah menjadi tujuan dan impian bagi Indonesia Baru. Melaksanakan reformasi berarti melakukan rekayasa sosial. Dan, bagaimanakah rekayasa sosial mesti dilakukan? Sejauh manakah rekayasa sosial harus dicapai? Mungkinkah ketika gagal reformasi, kita akan melakukan revolusi? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi begitu penting, dan karena itu pula Anda perlu membaca buku ini, secara utuh, sebagai sebuah rujukan yang akurat
Penulis: Jalaluddin Rakhmat
Penerbit: Rosda
Mungkinkah melakukan perubahan sosial tanpa upaya pelurusan kesalahan berpikir? Buku ini menjelaskan bahwa perubahan sosial (rekayasa sosial) harus dimulai dengan perubahan cara berpikir. Mustahil ada perubahan ke arah yang benar kalau kesalahan berpikir masih menjebak benak kita. Pengacauan intelektual yang masif dan intensif pada masa Orde Baru (bahkan sampai kini), merupakan hambatan terbesar dalam upaya melakukan rekayasa sosial. Buku ini bermaksud memberikan wacana besar bagi perubahan untuk Indonesia Baru. Seorang politikus atau pejuang apapun yang memiliki komitmen mestilah memahami masalah mendasar ini.
Dalam buku ini, penulis juga menguraikan bagaimana sebuah revolusi (dapat) dilakukan. Dengan cermat dan tajam, penulis memberikan korelasi antara reformasi dan revolusi. Sebuah wacana yang sangat menarik untuk kita angkat pada era Indonesia Baru sekarang. Reformasi seolah menjadi kata keramat. Siapa yang tidak reformis: Minggir! Partai yang tidak reformis: Bubar! Reformasi telah menjadi tujuan dan impian bagi Indonesia Baru. Melaksanakan reformasi berarti melakukan rekayasa sosial. Dan, bagaimanakah rekayasa sosial mesti dilakukan? Sejauh manakah rekayasa sosial harus dicapai? Mungkinkah ketika gagal reformasi, kita akan melakukan revolusi? Pertanyaan-pertanyaan ini menjadi begitu penting, dan karena itu pula Anda perlu membaca buku ini, secara utuh, sebagai sebuah rujukan yang akurat
Ringkasan Buku Rekayasa Sosial
karya Jalaludin Rakhmad (I)
Kerancuan Berpikir dan Mitos
kemiskinan
Mustahil
ada perubahan ke arah yang benar jika kesalahan berpikir masih berada dalam
benak kita. Dalam membahas masalah sosial, kita perlu membicarakan berbagai
kesalahan pemikiran dalam memperlakukan masalah sosial. Oleh para ilmuwan,
kesalahan seperti ini biasa disebut dengan intellectual cul-de-sac,
yang artinya kebuntuan dalam pemikiran. Ada dua macam kesalahan yaitu intellectual
cul-de-sac dan mitos. Mitos adalah sesuatu yang salah tetapi dipercayai
banyak orang termasuk ilmuwan.
Kesalahan-kesalahan berpikir
1.
Fallacy of dramatic instance
Kecenderungan
melakukan Over generalisation. Yaitu menggunakan satu dua kasus untuk
mendukung argumen yang bersifat umum. Contohnya, seorang peneliti datang ke
Indonesia ingin meneliti keadaan umat Islam, karena Muslim Indonesia terbesar
di dunia. Ketika tiba di Indonesia dia mendapati fakta bahwa muslim Indonesia
itu miskin, jorok, dan hal jelek lainnya. Lalu peneliti ini mengeneralisir hal
tersebut dengan mengatakan bahwa orang Islam itu orannya miskin, jorok, dan
lain sebagainya dengan bukti penelitian yang dia lakukan di Indonesia.
2.
Fallacy of retrospective determinism
Menganggap
masalah sosial selalu ada dan tidak bisa dihindari, karena sudah ada sejak
zaman dahulu dan merupakan akibat dari sejarah yang cukup panjang. Contoh
pelacuran, kemiskinan, dan lain-lain yang sudah sejak zaman dahulu kala memang
hal-hal tersebut sudah ada dalam sejarah kehidupan manusia.
3.
Post hoc ergo propter hoc
Menyatakan
peristiwa yang terjadi berurutan saling mempengaruhi, contoh harga barang
setelah reformasi naik karena Amin Rais menurunkan Suharto.
4.
Fallacy of misplaced concretness
Mengkonkretkan
sesuatu yang sebenarnya abstark. Contohnya, mengapa orang Islamsecara ekonomi
dan politik? Karena, kita berada dalam sistem jahiliyah dan tahgut sedang
berkuasa. Tetapi, sistem jahiliyah dan thagut itu dua hal yang abstrak.
Sehingga jika jawabannya seperti itu lalu apa yang harus kita lakukan? Kita
harus mengubah sistem! Tetapi, “siapa” sistem itu? Sistem yang abstrak itu kita
pandang sebagai sesuatu yang konkret.
5.
Argumentum ad verecundiam
Berargumen
menggunakan otoritas, walaupun tidak relevan dan ambigu. Misalnya ada suatu
peristiwa, lalu ada suatu kelompok yang melihatnya sama dengan apa yang terjadi
zaman Nabi Muhammad saw atau zaman sahabat lalu melakukan penafsiran yang
memaksa pihak lain untuk membenarkan penafsiran yang mereka lakukan. Padahal
peristiwa sirah itu bisa dilihat berbeda oleh pihak yang berbeda. Sebaiknya
bila kita akan menggunakan otoritas kita menambahkan frasa “menurut pendapat
saya” atau yang sejenisnya.
6.
Fallacy of composition
Terapi
untuk satu orang pasti berhasil untuk orang lain. Misalnya dalam suatu kampung
ada seorang petani yang menjual sawahnya untuk dia belikan motor. Lalu dia
menjadi ojek. Karena dalam satu kampung tersebut hanya dia yang memiliki motor
maka dia menjadi sukses dengan bisnis ojeknya. Lalu beramai-ramai teman petani
yang lain meniru pola yang dia lakukan. Sehingga terjadi poverty sharing karena
lahan ojek yang menyempit.
7.
Circular reasoning
Pemikiran
yang berputar-putar, menggunakan kesimpulan untuk mendukung asumsi yang
digunakan lagi untuk menuju kesimpulan semula.
Misalnya
, terjadi perdebatan tentang rendahnya prestasi intelektual umat Islam
Indonesia. Orang pertama membuktikan konklusi tersebut dengan membandingkan
persentase mahasiswa Islam dan non-Islam pada program S2 dan S3. Hasilnya,
semakin tinggi tingkat pendidikan, makin menurun trend kehadiran orang Islam.
Padahal di tingkat SD, persentase muslimnya sejumlah 95%.
Lalu,
orang kedua menyatakan bahwa hal ini terjadi lantaran oran Islam tidak
diberlakukan sederajat dengan orang non-Islam. Jadi, ada perlakukan
diskriminatif terhadap orang Islam. Sampai-sampai, orang Islam sering dicoret
dari program-program pendidikan tinggi.
Orang
pertama lalu menjawab lagi. “Orang Islam dicoret karena orang meragukan
kemampuan intelektualnya.” Dengan jawaban ini, kita kembali kepada pokok
permasalahan. Akhirnya perdebatan mengalir seputar itu dan terus
berputar-putar.
Mitos Sosial
1.
Mitos deviant
Menganggap
bahwa masyarakat itu stabil, statis, dan tidak berubah. Kalaupun terjadi
perubahan, maka itu merupakan suatu penyimpangan yang stabil.
2.
Mitos trauma
Menganggap
bahwa perubahan itu menimbulkan krisis emosional dan stres mental atau dengan
kata lain jangan keluar dari zona nyaman saat ini.
Masyarakat
akan menolak perubahan apabila muncul hal-hal berikut
- Perubahan itu diduga
mengancam basic security
- Perubahan itu tidak
dipahami dengan hidup dan penuh ketidakpastian
- Dirasakan adanya
paksaan kepada masyarakat
- Dianggap bertabrakan
dengan nilai atau norma yang lebih tinggi
- Tidak sesuai dengan
kalkulasi rasional masyarakat
Tidak ada komentar:
Posting Komentar